Langsung ke konten utama

MANAJEMEN LAYANAN KHUSUS: MANAJEMEN LAYANAN PENDIDIKAN INKLUSIF DI SEKOLAH UNGGULAN


Manajemen Layanan Pendidikan Inklusif di Sekolah Unggulan: Studi Kasus di SDN BARENG 5
Laporan Studi Kasus
Disusun untuk memenuhi Matakuliah Layanan Khusus
yang dibina oleh Ibu Dr. Mustiningsih, M.Pd



Oleh:

Dehfi Yuhwaningsih                                 (170131601087)
Firman Budi Santoso                                (170131601044)
Idqa Nanda Ayu                                       (170131601047)
Nur Aida Indah Eliza                               (170131601060)





UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
NOVEMBER, 2018




KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan “Laporan Studi Kasus Mengenai Manajemen Layanan Pendidikan Inklusif di SDN BARENG 5” tepat pada waktunya. Sholawat serta salam tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menerangi semua umat di muka bumi ini dengan cahaya kebenaran.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut membantu dalam penyelesaian penyusunan makalah ini. Khususnya kepada dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Layanan Khusus, yaitu Ibu Dr. Mustiningsih M.Pd yang telah membimbing dan membagi pengalamannya kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat berbagai kekurangan dan kesalahan, baik dari segi isi maupun segi bahasa. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat konstruktif untuk penyempurnaan makalah ini. Penulis berharap agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.




Malang, November 2018



Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL                                                                                 i
KATA PENGANTAR                                                                                  ii
DAFTAR ISI                                                                                                  iii
DAFTAR LAMPIRAN                                                                                iv
BAB I PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang                                                                                          1
B.       Tujuan Pembahasan                                                                                  2
C.       Metode                                                                                                      3
D.      Ruang Lingkup Pembahasan                                                                    3
BAB II KAJIAN TEORI
A.    Pengertian Pendidikan Inklusif                                                                 4
B.     Tujuan Pendidikan Inklusif                                                                       4
C.     Karakteristik Pendidikan Inklusif                                                              7
D.    Kurikulum Sekolah Inklusif                                                                       8
BAB III HASIL STUDI KASUS
A.    Profil Sekolah                                                                                            9
B.     Manajemen Layanan Pendidikan Inklusif di SDN BARENG 5               10
C.     Permasalahan Layanan Pendidikan Inklusif di SDN BARENG 5          12
BAB IV PENGEMBANGAN LAYANAN KHUSUS PENDIDIKAN INKLUSIF DI SDN BARENG 5
A.    Pemecahan Pendidikan Inklusif di SDN BARENG 5                              14  
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan                                                                                                16
B.     Saran                                                                                                          16
DAFTAR RUJUKAN                                                                                   18
LAMPIRAN                                                                                                   19






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Salah satu tujuan adanya pendidikan di negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yaitu seluruh warga negara. Dengan adanya pendidikan diharapkan, semua akan mampu mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat, mampu membangun negaranya ke arah yang lebih baik dan lebih maju. Pendidikan merupakan hak semua warga negara tanpa kecuali. Hak pendidikan tidak membedakan derajat, kondisi ekonomi ataupun kelainannya. Semua berhak memperoleh pendidikan yang layak. Semua berhak memperoleh pendidikan yang ada disekitarnya.
Pendidikan inklusif menurut Smith dkk (2006) didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama dengan teman-teman seusianya. Untuk itu perlu adanya rekonstruksi di sekolah sehingga menjadi komunitas yang mendukung kebutuhan khusus bagi setiap anak.
Keberadaan anak berkebutuhan khusus di masyarakat masih belum dapat sepenuhnya diterima, sehingga banyak hal yang menyangkut hak anak-anak berkebutuhan khusus belum dapat diperoleh atau dengan kata lain masih terjadi dIskriminasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus baik dalam bidang sosial, hukum ataupun pendidikan. Untuk itu banyak usaha dari pemerintah ataupun gerakan masyarakat internasional yang peduli dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang melahirkan kesepakatan dan perangkat hukum perundang-undangan yang mengikat.

B.       Tujuan Pembahasan
Tujuan dari penulisan laporan studi kasus ini adalah sebagai berikut:
1.        Untuk menjelaskan pengertian pendidikan inklusif.
2.        Untuk menjelaskan tujuan pendidikan inklusif.
3.        Untuk menjelaskan karakteristik pendidikan inklusif.
4.        Untuk menjelaskan kurikulum sekolah inklusif.
5.        Untuk menjelaskan profil SDN Bareng 5 Malang.
6.        Untuk menjelaskan manajemen layanan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.
7.        Untuk menjelaskan permasalahan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.
8.        Untuk menjelaskan pemecahan permasalahan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.

C.      Metode
Dalam menyelesaikan tugas tentang pendidikan inklusif, kelompok kami menggunakan metode observasi secara langsung di SDN Bareng 5 Malang. Observasi adalah kegiatan terhadap suatu proses dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian. Kami melakukan observasi di SDN Bareng 5 Malang pada hari Rabu. Selain melakukan observasi, kami juga melakukan wawancara dengan salah satu guru di SDN Bareng 5 Malang. Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Kami mengajukan pertanyaan tentang pengelolaan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang. Kami juga mendokumentasi data-data tentang pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang. Seperti suasana kelas inklusif dan rapor dari kelas inklusif. Itulah teknik yang kami gunakan untuk meneliti tentang pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.

D.      Ruang Lingkup Bahasan
1.      Pengertian pendidikan inklusif.
2.      Tujuan dari pendidikan inklusif.
3.      Karakteristik pendidikan inklusif.
4.      Kurikulum sekolah inklusif.
5.      Profil SDN Bareng 5 Malang.
6.      Manajemen layanan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.


7.      Permasalahan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.
8.      Pemecahan permasalahan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang.

BAB II
KAJIAN TEORI

A.      Pengertian Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif mulai dicanangkan pada Konferensi Internasional  yang diselenggarakan oleh UNESCO pada tanggal 7-10 Juni 1994 di Salamanca Spanyol. Konferensi yang diikuti oleh 92 negara dan 25 organisasi internasional ini menghasilkan kesepakatan yang dikenal dengan Kesepakatan Salamanca. Istilah inklusi berasal dari bahasa Inggris “inclusive” yang artinya termasuk, memasukkan. Pendidikan inklusi diartikan dengan memasukkan anak berkebutuhan khusus dikelas regular bersama anak lainnya. Namun secara lebih luas pendidikan inklusif diartikan melibatkan seluruh peserta didik tanpa terkecuali dalam pendidikan regular.
Banyak pendapat yang berbeda-beda tentang pengertian inklusif, yang mana inklusif adalah istilah terbaru yang dipergunakan untuk mendeskripsikan penyatuan bagi anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program-program sekolah. Bagi sebagian besar pendidik, istilah ini dilihat sebagai deskripsi yang lebih positif dalam usaha-usaha menyatukan anak-anak yang memiliki hambatan dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh (Smith dkk, 2006).
Inklusif dapat berarti penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visi-misi) sekolah. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah yang menampung semua murid di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru, agar anak-anak berhasil.

B.       Tujuan Pendidikan Inklusif
Tujuan pendidikan inklusi adalah disamping untuk mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar juga untuk menyamakan hak dalam memperoleh pendidikan antara anak normal dengan anak berkebutuhan khusus.


1.      Tujuan yang ingin dicapai oleh anak dalam mengikuti kegiatan belajar dalam pendidikan inklusif antara lain adalah :
  1. Berkembangnya kepercayaan pada diri anak;
  2. Anak dapat belajar secara mandiri, dengan mencoba memahami dan menerapkan pelajaran yang diperolehnya di sekolah ke dalam kehidupan sehari-hari;
  3. Anak mampu berinteraksi secara aktif bersama teman-temannya, guru, sekolah dan masyarakat;
  4. Anak dapat belajar untuk menerima adanya perbedaan, dan mampu beradaptasi dalam mengatasi perbedaan tersebut.
2.      Tujuan yang ingin dicapai oleh guru-guru dalam pelaksanakan pendidikan inklusif antara lain adalah:
  1. Guru akan memperoleh kesempatan belajar dari cara mengajar dengan setting inklusi;
  2. Terampil dalam melakukan pembelajaran kepada peserta didik yang memiliki latar belakang beragam;
  3. Mampu mengatasi berbagai tantangan dalam memberikan layanan kepada semua anak;
  4. Bersikap positif terhadap orang tua, masyarakat, dan anak dalam situasi beragam;
  5. Mempunyai peluang untuk menggali dan mengembangkan serta mengaplikasikan berbagai gagasan baru melalui komunikasi dengan anak di lingkungan sekolah dan masyarakat.
3.      Tujuan yang akan dicapai bagi orang tua dalam pelaksanakan pendidikan inklusif antara lain adalah:
  1. Para orang tua dapat belajar lebih banyak tentang bagaimana cara mendidik dan membimbing anaknya lebih baik di rumah, dengan menggunakan teknik yang digunakan guru di sekolah;
  2. Mereka secara pribadi terlibat, dan akan merasakan keberadaanya menjadi lebih penting dalam membantu anak untuk belajar;
  3. Orang tua akan merasa dihargai, merasa dirinya sebagai mitra sejajar dalam memberikan kesempatan belajar yang berkualitas kepada anaknya;


  1. Orang tua mengetahui bahwa anaknya dan semua anak yang di sekolah, menerima pendidikan yang berkualitas sesuai dengan kempuan masingmasing individu anak.
4.      Tujuan yang diharapkan dapat dicapai oleh masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan inklusif antara lain adalah:
  1. Masyarakat akan merasakan suatu kebanggaan karena lebih banyak anak mengikuti pendidikan di sekolah yang ada di lingkungannya;
  2. Semua anak yang ada di masyarakat akan terangkat dan menjadi sumber daya yang potensial, yang akan lebih penting adalah bahwa masyarakat akan lebih terlibat di sekolah dalam rangka menciptakan hubungan yang lebih baik antara sekolah dan masyarakat (Tarmansyah, 2007:112-113).
Selanjutnya tujuan pendidikan inklusif menurut Marthan (2007) terbagi menjadi 4 yakni bagi anak berkebutuhan khusus, bagi pihak sekolah, bagi guru, dan bagi masyarakat, lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1.      Bagi anak berkebutuhan khusus
  1. Anak akan merasa menjadi bagian dari masyarakat pada umumnya;
  2. Anak akan memperoleh bermacam-macam sumber untuk belajar dan bertumbuh;
  3. Meningkatkan harga diri anak;
  4. Anak memperoleh kesempatan untuk belajar dan menjalin persahabatan bersama teman yang sebaya.
2.      Bagi pihak sekolah
  1. Memperoleh pengalaman untuk mengelola berbagai perbedaan dalam satu kelas;
  2. Mengembangkan apresiasi bahwa setiap orang memiliki keunikan dan  kemampuan yang berbeda satu dengan lainnya;
  3. Meningkatkan kepekaan terhadap keterbatasan orang lain dan rasa empati pada keterbatasan anak;
  4. Meningkatkan kemempuan untuk menolong dan mengajar semua anak dalam kelas.
3.      Bagi guru
  1. Membantu guru untuk menghargai perbedaan pada setiap anak dan mengakui bahwa anak berkebutuhan khusus juga memiliki kemampuan;
  2. Menciptakan kepedulian bagi setiap guru terhadap pentingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus;
  3. Guru akan merasa tertantang untuk menciptakan metode-metode baru dalam pembelajaran dan mengembangkan kerjasama dalam memecahkan masalah;
  4. Meredam kejenuhan guru dalam mengajar.
4.      Bagi masyarakat
  1. Meningkatkan kesetaraan sosial dan kedamaian dalam masyarakat;
  2. Mengajarkan kerjasama dalam masyarakat dan mengajarkan setiap anggota masyarakat tentang proses demokrasi;
  3. Membangun rasa saling mendukung dan saling membutuhkan antar anggota masyarakat.

C.      Karakteristik Pendidikan Inklusif
Karakteristik pendidikan inklusif menurut Marthan (2007:152) tergabung dalam beberapa hal seperti hubungan, kemampuan, pengaturan tempat duduk, materi belajar, sumber dan evaluasi yang dijelaskan sebagai berikut:
1.        Hubungan
Ramah dan hangat, contoh untuk anak tuna rungu: guru selalu berada di dekatnya dengan wajah terarah pada anak dan tersenyum. Pendamping kelas( orang tua ) memuji anak tuna rungu dan membantu lainnya.
2.        Kemampuan
Guru, peserta didik dengan latar belakang dan kemampuan yang berbeda serta orang tua sebagai pendamping.
3.        Pengaturan tempat duduk
Pengaturan tempat duduk yang bervariasi seperti, duduk berkelompok di lantai membentuk lingkaran atau duduk di bangku bersama-sama sehingga mereka dapat melihat satu sama lain.
4.        Materi belajar
Berbagai bahan yang bervariasi untuk semua mata pelajaran, contoh pembelajarn matematika disampaikan melalui kegiatan yang lebih menarik, menantang dan menyenangkan melalui bermain peran menggunakan poster dan wayang untuk pelajaran bahasa.
5.        Sumber
Guru menyusun rencana harian dengan melibatkan anak, contoh meminta anak membawa media belajar yang murah dan mudah didapat ke dalam kelas untuk dimanfaatkan dalam pelajaran tertentu.
6.        Evaluasi
Penilaian, observasi, portofolio yakni karya anak dalam kurun waktu tertentu dikumpulkan dan dinilai.

D.      Kurikulum Sekolah Inklusif
Kurikulum yang digunakan di sekolah inklusi adalah kurikulum anak normal (regular) yang disesuaikan atau dimodifikasi sesuai dengan kemampuan awal dan karakteristik siswa. Lebih lanjut, menurut Tarmansyah (2007:168) modifikasi dapat dilakukan dengan cara modifikasi alokasi waktu, modifikasi isi/materi, modifikasi proses belajar mengajar, modifikasi sarana dan prasarana, modifikasi lingkungan untuk belajar, dan modifikasi pengelolaan kelas. Dengan kurikulum tersebut akan memberikan peluang terhadap tiap-tiap anak untuk mengaktualisasikan potensinya sesuai dengan bakat, kemampuannya dan perbedaan yang ada pada setiap anak.

BAB III
HASIL STUDI KASUS

A.    Profil Sekolah
1.      Identitas Sekolah
a.       NPSN                                      : 20534057
b.      Status                                      : Negeri
c.       Bentuk Pendidikan                 : SD
d.      Status Kepemilikan                 : Pemerintah Daerah
e.       SK Pendirian Sekolah             : Kab/Kota-31 Dp
f.       Tanggal SK Pendirian             : 1980-07-17
g.      SK Izin Operasional                : Kab/Kota-31 Dp
h.      Tanggal SK Izin Operasional : 1980-07-17
2.      Data Pelengkap
  1. Kebutuhan Khusus Dilayani   C1,K
  2. Nama Bank                             : BANK JATIM
  3. Cabang KCP/Unit                   : Malang Kota
  4. Rekening Atas Nama              : SDN BARENG 5
  5. Luas Tanah Milik                    : 3500
  6. Luas Tanah Bukan Milik         : 0
3.      Data Rinci
a.       Status BOS                             Bersedia Menerima
b.      Waku Penyelenggaraan           : Sehari penuh (5 h/m)
c.       Sertifikasi ISO                        : Belum Bersertifikat
d.      Sumber Listrik                        : PLN
e.       Daya Listrik                            : 1300
f.       Akses Internet                         : Tidak Ada
4.      Kontak Utama
a.       Alamat                                    Jl. Bareng Tenes IV B
b.      RT / RW                                  : 07 / 02
c.       Desa / Kelurahan                     : Bareng
d.      Kecamatan                              : Klojen


e.       Kabupaten/Kota                      : Malang
f.       Provinsi                                   : Jawa Timur
g.      Kode Pos                                : 65116
h.      Lintang                                    : -7.9781000
i.        Bujur                                       : 112.6224000
5.      Kontak yang Bisa Dihubungi
a.       Telepon                                   0341-357090
b.      Email                                       : sdnbareng5@gmail.com
g.      Guru                                        : 8
Siswa Laki-laki                       : 54
Siswa Perempuan                    : 40
Rombongan Belajar                : 6
h.      Penyelenggaraan                     : Sehari Penuh/5h 
i.        Ruang Kelas                            : 4 
j.        Laboratorium                          : 0 
k.      Perpustakaan                           : 0 
l.        Sanitasi Siswa                         : 4 

B.       Manajemen Layanan Pendidikan Inklusif di SDN BARENG 5
Berdasarkan wawancara yang telah dilaksanakan oleh kelompok kami pada:
hari/tanggal     : Selasa, 23 Oktober 2018
waktu              : 08.30
tempat             : SD Negeri Bareng 5 Malang

Hasil wawancara yang kelompok kami peroleh bahwa di SDN Bareng 5 Malang dalam manajemen layanan khusus terdapat pendidikan inklusif. Tujuan diadakannya pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang adalah supaya anak-anak yang kurang mampu dalam psikis bisa belajar dan bisa memperoleh pendidikan yang sama dengan anak-anak yang reguler sehingga bisa mendapatkan
pengajaran yang sesuai. Adapun alasan diadakannya pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang ini karena terdapat anak atau siswa yang mana dia tidak sama dengan anak-anak biasa lainnya atau anak reguler lainnya, yang mana ditinjau dari kemampuan yang dimiliki sangat kurang dibandingkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh anak-anak reguler atau anak-anak biasa lainnya. Dan menurut pihak sekolah (kepala sekolah dan dewan guru) jika tidak diadakannya kelas inklusi di SDN Bareng 5 Malang ini maka akan mengakibatkan anak-anak tersebut menjadi putus sekolah.  Dan untuk dasar diadakannya kelas inklusi pada masing-masing sekolah, Pemerintah Dinas Pendidikan sudah mengeluarkan Undang-Undang yang terkait dengan hal tersebut. Sedangkan untuk penyelenggaraan kelas inklusi di SDN Bareng 5 Malang ini merupakan inisiatif dari kepala sekolah dan dewan guru.
Kriteria penerimaan peserta didik baru pada kelas inklusif di SDN Bareng 5 Malang yaitu apabila calon peserta didik tersebut sangat kurang dalam artian perkembangan intelektual maupun psikisnya misalnya tidak dapat bicara, bicaranya tidak komunikatif, dan suka mengeluarkan air liur. Maka pihak sekolah tidak dapat menerima anak tersebut. Karena menurut pihak sekolah anak tersebut tidak memenuhi syarat sebagai peserta didik di kelas inklusi dan lebih cocok untuk masuk di SLB. Sedangkan untuk prosedur penerimaan peserta didik baru pada kelas inklusif di SDN Bareng 5 Malang yaitu prosedur nya sama dan dimulai pada waktu yang bersamaan dengan prosedur PPDB bagi anak reguler biasa. Hanya saja pada lama penerimaan pesertanya akan dihentikan lebih awal dari lama waktu PPDB bagi anak reguler dan tidak akan membuka lagi selama satu tahun kedepan setelah mendapatkan dua peserta didik inklusi yang dianggap telah memenuhi syarat seperti memenuhi syarat dalam tes wawancara maupun dengan cara orang tua membawakan bukti tertulis atau hasil terapi anak inklusi tersebut dari psikolog.
Kurikulum yang diterapkan bagi anak inklusi di SDN Bareng 5 Malang sama dengan kurikulum yang diterapkan di kelas reguler biasa, hanya saja di kelas inklusi pihak sekolah menyesuaikan dengan tingkatan perkembangan anak. Misalnya untuk anak inklusi yang sudah pada tingkatan kelas tiga, pihak sekolah memberikan materi pelajaran sesuai dengan kurikulum/silabus di kelas tiga,
namun implementasi pembelajarannya yang berbeda dan disesuaikan dengan sistem pembelajaran sama seperti kelas satu reguler. Jadi misal, biasanya untuk anak reguler mengikuti pembelajaran di kelas selama dua jam pelajaran penuh, tetapi untuk anak inklusi pihak sekolah memberikan kelonggaran seperti sebelum jam pelajaran habis atau baru 30 menit pembelajaran terlewati namun anak inklusi tersebut sudah merasa lelah, maka pihak sekolah memberikan kompensasi istirahat sebentar selama beberapa menit. Adapun untuk model pembelajaran yang diterapkan dalam kelas inklusi di SDN Bareng 5 Malang disesuikan dengan kondisi kebutuhan siswanya. Misalnya ada yang belum bisa mengenal huruf maka model pembelajaran yang digunakan yaitu dengan media gambar ataupun gerakan, kemudian untuk yang sudah lancar diberikan model pembelajaran yang lebih pada menulis dan membaca, dan terkadang juga diberikan ice breaking dengan mengajak siswa tersebut bermain di dalam kelas.
Penentuan standar dan kelulusan naik tingkat bagi anak inklusi di SDN Bareng 5 Malang disesuiakan dengan hasil yang diperoleh anak tersebut. Apakah sudah mencapai hasil/nilai yang melewati batas atau nilai KKM yang telah ditentukan pada masing-masing tingkatan kelas. Sedangkan untuk penataan/pengaturan tempat duduk kelas inklusi di SDN Bareng 5 Malang di atur  berganti-ganti pada waktu tertentu menyesuaikan dengan kondisi siswa maupun pembelajaran yang akan diberikan. Kadang dibuat klasikal kadang juga dibuat secara berkelompok. Namun untuk saat ini karena kelas inklusi masih dalam tahap akan diperbaiki sehingga anak-anak inklusi berada dalam satu kelas dengan anak reguler, maka pengaturan tempat duduk dibuat menyerupai huruf U dengan mengelompokkan anak inklusi di letakkan di sebelah kiri dan anak reguler diletakkan disebelah kanan dan tengah. Hal ini agar dapat memudahkan guru dalam memberikan bimbingan.

C.      Permasalahan Layanan Pendidikan Inklusif di SDN BARENG 5
Permasalahan layanan pendidikan inklusif di SDN Bareng 5 Malang diantaranya yaitu pertama, belum adanya guru pendamping untuk anak inklusi, hal ini dikarenakan untuk mengadakan guru pendamping bagi anak inklusi memerlukan banyak biaya. Kedua, belum adanya sarana prasarana maupun media pembelajaran khusus untuk anak inklusi. Ketiga, adanya anak inklusi yang memiliki karakteristik semaunya sendiri. Keempat, adanya anak inklusi yang berani memukul gurunya.


BAB IV
PENGEMBANGAN LAYANAN KHUSUS PENDIDIKAN INKLUSIF DI SDN BARENG 5 MALANG

A.      Pemecahan Pendidikan Inklusif di SDN Bareng 5 Malang
Dari hasil kajian lapangan yang telah dilakukan di SDN Bareng 5 Malang yang pertama belum adanya guru pendamping namun disisi lain tidak adanya biaya untuk merekrut guru baru, menurut kelompok guru yang telah disiapkan SDN Bareng 5 Malang perlu diberi pembinaan tentang pendidikan inklusi. Jadi SDN Bareng 5 Malang tidak perlu menambah sumber daya manusia baru, namum memperbaiki dan menyempurnakan pengajar yang ada untuk diberikan workshop tentang metode pengajaran maupun diikutkan pelatihan tentang pendidikan inklusi.
Dan untuk permasalahanan kedua belum adanya sarana prasarana maupun media pembelajaran khusus untuk anak inklusi. Untuk mengatasi hal tersebut SDN Bareng 5 Malang bisa dengan meningkatkan fungsi keberadaan komite sekolah dan mengumpulkan orang tua siswa untuk sama-sama saling membantu mewujudkan sarana prasarana yang baik dan berkualitas untuk menunjang pembelajaran di SDN Bareng 5 Malang. Pihak sekolah seharusnya transparan mengenai sarana prasarana yang seharusnya disediakan dan spesifikasi sesuai anggaran yang ditetapkan. Selain itu, sekolah bisa mencari sumber dana lain selain dari dana BOS. Misalkan dengan mencari dana dari sponsor, yang nantinya perolehan dana tersebut bisa dialokasikan untuk memenuhi sarana prasarana maupun media pembelajaran khusus untuk anak inklusi.
Masalah ketiga dan keempat ini dapat menerapkan solusi yang sama untuk menyelesaikan masalah anak inklusi yang memiliki karakteristik semaunya sendiri adalah dengan melakukan pendekatan secara intensif pada peserta didik tersebut, hal ini dapat memicu ketenangan peserta didik. Apabila peserta didik tersebut terlihat ada gelagat marah yang berlebihan segeralah memintanya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan. Sampai ia menunjukkan sikap tenang. Sebagai pendidik jangan sampai mengatakan memberi perlakuan yang berbeda dari teman-temannya karena hal tersebut dapat memicu kemarahan anak. Selain itu pendidik haruslah memberi pengertian pada teman satu kelas untuk tidak antipati terhadap anak tersebut dengan memberi petunjuk pada teman temannya kapan harus mendekat dan mengajaknya bermain dan kapan harus menjaga jarak. Anak anak inklusif yang seperti ini membutuhkan dukungan dari orang-orang sekitarnya. Perlunya komunikasi terhadap orang tua anak apa saja yang terjadi ketika peserta didik tersebut dikelas. Jadi sebagai pendidik akan lebih mudah untuk memfokuskan anak dalam kegiatan pembelajaran. Apabila kemampuan guru sudah mencapau batas, maka haruslah mengkoordinasikan kepada sekolah dan orang tua siswa untuk membicarakan upaya-upaya selanjutnya.

BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan pembahasan mengenai program pendidikan inklusi di SDN Bareng 5 Malang maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.      Pelaksanaan program pendidikan inklusif di sekolah ini sudah ada izinnya dari dinas pendidikan setempat.
2.      Kesediaan sarana prasarana secara umum sudah terpenuhi, namun untuk anak-anak inklusi ini belum memadai.
3.      Kurikulum yang diajarkan untuk kelas inklusi dan regular sudah pula disesuaikan berdasarkan tingkatan dan perkembangan peserta didik.
4.      Pelatihan khusus untuk guru yang ada disekolah belum merata, sekolah juga belum memiliki guru khusus untuk mendampingi anak-anak inklusi karena keterbatasan biaya.
5.      Pembiayaan pelaksanaan program sekolah masih diambil dari alokasi BOS. Selain itu belum adanya monitoring lanjutan dari dinas terkait.
6.      Pendukung pelaksanaan program inklusi yaitu antusias masyarakat sekitar yang menyekolahkan anaknya yang inklusi di SDN Bareng 5 Malang.
B.     Saran
Berdasarkan hasil observasi diharapkan bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang pendidikan inklusi, saran yang dapat diberikan dalam pelaksanaan program inklusi sebagai berikut:
1.      Perlunya diklat ataupun workshop  untuk guru maupun kepala sekolah dalam penanganan anak-anak inklusi, bisa juga dengan saling berbagi pengalaman dengan guru dari sekolah lain yang mengadakan pendidikan inklusi.
2.      Sekolah perlu banyak melakukan kerja sama dengan komite sekolah maupun orangtua siswa dalam meningkatkan perkembangan maupun pencapaian prestasi peserta didik.
3.      Selain itu perlunya koordinasi dengan komite dan orang tua siswa dalam berkontribusi membangun dan menyediakan sarana prasana yang layak dan sesuai standar untuk kegiatan pembelajaran.
4.      Dinas pendidikan terkait perlu melaukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan terhadap pelaksanaan program inklusi.


DAFTAR RUJUKAN

Marthan, L. K. 2007. Manajemen Pendidikan Inklusif. Jakarta: Dirjen.
Smith, D. J., Sugiarmin, M., dan Baihaqi, M. 2006. Inklusi Sekolah Ramah untuk   Semua. Bandung : Nuansa
Tarmansyah. 2007. Inklusi Pendidikan untuk Semua. Jakarta: Depdiknas.

APABILA MAKALAH INI DIRASA MEMBANTU, MOHON BERI DUKUNGAN DENGAN MEMBERIKAN SARAN DAN KRITIK MAUPUN SHARE 

Email : idqnnd2803@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INFORMATIF! PERBEDAAN FANTASI, INTELEGENSIA DAN PERASAAN

Fantasi Yang dimaksud dengan fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau kedepan, ke keadaan-keadaan yang mendatang. Fantasi sebagai kemampuan jiwa manuia dapat terjadi: 1.       Secara disadari, yaitu apabila individu-individu betul-betul menyadari akan fantasiny. Misalnya seorang pelukis yang sedang menciptakan lukisan dengan kemampuan fantasinya, seorang pemahat yang sedang memahat arca dengan dasar daya fantasinya. 2.       Secara tidak disadari, yaitu apabila individu tidak sadar telah dituntun oleh fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak. Anak seting mengemukakan hal hal yang bersifat fantastis, sekalipun tidak ada niat atau maksud dari anak untuk berdusta. Misalnya seorang anak memberikan berita yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sekalipun...

REKOMENDASI FILM YANG COCOK DITONTON MAHASISWA SAAT DI KOS PART 1

Pasti bingung apa yang akan dilakukan diakhir pekan, apalagi sebagai mahasiswa yang merantau jauh dari rumah. Mau pulang ke kampung halaman, hemat uang. Mau keluar jalan, uang buat makan minggu depan. Mau pergi ke Mall, nggak punya temen. Yuk, simak kegiatan ini bisa dilakukan tanpa modal. Cukup siapkan WiFi kos yang lancar untuk streaming atau kalian bisa pergi ke Telkom untuk mendownload filmnya. Banyak pelajaran atau moral value yang akan dapat diambil di film ini. Selain itu bisa juga dijadikan ajang untuk olahraga air mata. Ini dia beberapa rekomendasi film yang dapat ditonton disela sela akhir pekan versi aku! 1. Miracle In Cell No. 7 (2013) Super rekomended untuk mengasah kepekaan hati kalian, apalagi yang jauh dari rumah. Selain itu film ini mendapatkan banyak reward dari korea. Ditetapkan dibanyak situs sebagai film tersedih sepanjang masa. Auto menangis, bukan kaleng kaleng lagi pastinya. Menceritakan seorang anak perempuan yang tinggal dengan ayahnya yang me...

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA: STRATEGI REKRUTMEN SUMBER DAYA MANUSIA AGAR LEBIH SELEKTIF DAN EFEKTIF

STRATEGI REKRUTMEN SUMBER DAYA MANUSIA AGAR LEBIH SELEKTIF DAN EFEKTIF STUDI KASUS SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL Idqa Nanda Ayu Okky Irwina Savitri Salsabilla Taftania E-mail: idqnnd2803@gmail.com , okkyirwinasvtr@gmail.com , salsabillataf@gmail.com Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang 65145 Abstract: This research has purpose to describtion the strategy of recruitment human resources, recruitment is the process of obtaining new human resources to fulfill positions within an organization or a particular agency.This research used qualitative approach with research type of case study research and supported by using literacy analysis. The results of this research are: techniques in the recruitment process of human resources, weaknesses and strengths of human resource recruitment techniques, all recruitment processes from the beginning to the process of receiving human resources at Bra...