Fantasi
Yang
dimaksud dengan fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk
tanggapan-tanggapan atau bayangan bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi
manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau
kedepan, ke keadaan-keadaan yang mendatang. Fantasi sebagai kemampuan jiwa
manuia dapat terjadi:
1. Secara
disadari, yaitu apabila individu-individu betul-betul menyadari akan fantasiny.
Misalnya seorang pelukis yang sedang menciptakan lukisan dengan kemampuan
fantasinya, seorang pemahat yang sedang memahat arca dengan dasar daya
fantasinya.
2. Secara
tidak disadari, yaitu apabila individu tidak sadar telah dituntun oleh
fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak. Anak seting
mengemukakan hal hal yang bersifat fantastis, sekalipun tidak ada niat atau
maksud dari anak untuk berdusta. Misalnya seorang anak memberikan berita yang
tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sekalipun ia tidak berniat untuk
berbohong. Dalam hal ini tidak disdari anak dituntun oleh fantasinya.
·
Macam macam fantasi
Fantasi
umumnya merupakan aktivitas yang menciptakan. Tetapi sekalipun demikian sering
dibedakan antari fantasi yang menciptakan dan fantasi yang dipimpin.
Fantasi yang
menciptakan yaitu merupakan bentuk atau jenis fantasi yang
menciptakan sesuatu. Misalnya seorang ahli mode pakaian menciptakan model
pakaian atas dasar daya fantasinya; seorang pelukis menciptakan lukisan atas
daya fantasinya.
Fantasi yang dituntun
atau dipimpin, yaitu merupakan bentuk atau jenis
fantasi yang dituntun oleh pihak lain. Missal seseorang yang melihat film,
orang lain dapat mengikuti apa yang dilihatnya dan dapat berfantasi tentang
keadaan atau tempat tempat lain tengan perantara film tersebut. Demikian pula
kalau orang berfantasi melalui musik, berita atau membaca sesuatu.
Fantasi yang
mengabstrak, yaitu cara orang berfantasi
dengan mengabstrak –kan beberapa bagian, sehingga ada bagian-bagian yang
dihilangkan. Misalnya anak yang belum pernah melihat gurun pasir, maka untuk
menjelaskan dipakaliah bayangan hasil persepsi yaitu lapangan.
Fantasi yang
mendeterminasi, yaitu cara orang berfantasi
dengan mendeterminasi (menetapkan/memastikan) terlebih dahulu. Misalnya anak
belum pernah melihat harimau, yang meleka telah lihat adalah kucing maka kucing
digunakan sebagai bahan untuk memberikan pengertian tentang harimau. Dalam
berfantasi harimau, dalam bayangannya seperti kucing namun bentuknya besar.
Fantasi yang
mengombinasi,yaitu orang berfantasi dengan cara
mengombinasikan pengertian-pengertian atau bayangan – bayayangan yang ada pada
individu bersangkutan. Misalnya berfantasi tentang ikan duyung, yaitu kepalanya
seorang wanita, tetapi badannya ikan. Model fantasi inilah yang sering
digunakan orang, misalnya mendesain rumah dengan gaya eropa namun menggunakan
atap minangkabau.
Fantasi apabila dibadingkan dengan
kemampuan-kemampuan jiwa yang lain, fantasi lebih bersifat subjektif atau
menurut pandangan sendiri. Bayangan fantasi berlainan dengan bayangan presepsi.
Bayangan presepsi merupakan hasil dari presepsi sedangkan bayangan fantasi
merupakan hasil dari fantasi.
Oleh karena itu dengan fantasi seseorang dapat
menjangkau ke depan. Maka dari itu, fantasi sangat penting dalam kehidupan
manusia. Namun demikain, ini tidak berarti fantasi itu tidam mempunyai
keburukan. Keburukannya ialah dengan fantasi orang dapat meninggalkan alam
kenyataan, lalu masuk dalam alam fantasi. Hal ini merupakan suatu bahaya,
karena orang terbaa hidup dalam alam yang tidak nyata. Fantasi juga dapat
menimbulkan kedustaan, takhayul, dan sebagainya,
Untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan seseorang untuk berfantasi, pada umumnya dilakukan tes fantasi. Tes
yang sering digunakan untuk mengetahaui fantasi ialah :
1. Tes
TAT, yatu tes yang berwujud gambar – gambar, dan testee disuruh bercerita
tentang gambar itu,
2. Tes
kemustahilan, yaitu tes yang berbentuk gambar – gambar atau cerita – cerita
yang mustahil terjadi. Testee disuruh mencari kemustahilannya itu,
3. Heilbronner
Wirsma Test, yaitu tes yang berwujud suatu seri gambar yang makin lama makin
sempurna,
4. Tes
Rorschach, yaitu tes yang berujud gambar – gambar dan testee disuruh menginterprestasikan
gambar tersebut.
Walgianto, B.1980. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:
Andi Offset
Intelegensi
Berbicara tentang
intelegensi biasanya memang dikaitkan dengan kemmpuan untuk memecahkan masalah,
kemempuan untuk belajar, ataupun kemampuan unuk berfikir abstrak. Intelegensi berasal dari kata intelligere yang berarti
mengorgansasikan, menghubungkan atau menyatukan dengan yanga lain (to organize, to relate , to bind together)
Perasaan
Menurut Chaplin (1972)
perasaan adalah keadaan atau state
individu sebagai akibat dari presepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun
internal. Pada umumnya perasaan yang timbul pada setiap orang berbeda satu sama
yang lain meski dengan stimulus yang sama reaksi yang ditimbulakan satu sama
lain berbeda.
Tiga dimensi perasaan menurut Wundt selain sennag
dan tidak senang ada dimensi perasaan lain, yaitu excited feeling atau
perasaan yang dialami oleh individu disertai adanya perilaku atau pebuatan yang
Nampak, misalnya orang menari – nari karena lulus ujian. Sebaliknya sekalipun
seseorang tersebut menerima uang banyak atau lulus ujiannya tetap tenang saja,
tanpa ada perilaku atau perrbuatan yang menampak keluar hal ini dinamakan innert feeling. Sedangkan yang
ketiga yaiu expectancy feeling dan release feeling. Sesuatu perasaan dapat
dapat dialami oleh individu sebagai sesuatu yang belum nyata, sesuatu yang
masih dalam pengharapan dinamakan expectancy feeling. Disamping itu perasaan
dapat dialami leh individu karena sesuatu itu telah nyata dinamankan dengan release feeling.
Jenis perasaan
Menurut
Stern membedakan perasaan menjadi tiga golongan a]sehubungan dengan waktu dan
perasaan yaitu ;
1. Perasaan
presens, yaitu perasaan yang timbul dalam keadaan sekarang nyata dihadapi,
yaitu berhubungan dengan situasi yang actual.
2. Perasaan
yang menjangkau maju, merupakan jangkauan ke depan, yaitu perasaan dalam
kejadian – kejadian yang akan dating, jadi masih dalam pengharapan.
3. Perasaan
yang berkaitan dengan waktu yang telah lampau, yaitu perasaan yang timbul
dengan melihat kejadian – kejadian yang telah lalu. Missal orang yang teringan
akan masa kejayaannya dahulu.
Bigot
(1950) memberikan klasifikasi perasaan sebaga berikut :
1. Perasaan
keindraan, yaitu perasaan yang berkaitan dengan alat indera, missal perasaan
berhubungan dengan pencecapan misalnya rasa asin, pahit, manis dan sebagainya.
Termasuk perasaan lapar, haus, lelah dan sebagainya.
2. Perasaan
psikis atau kejiwaan, yang masih dibedakan atas (a) perasaan intelektual; (b)
perasaan kesusialaan; (c) perasaan keindahan; (d) perasaan sosial atau
kemasyarakatan; (e) perasaan harga diri; dan (f) perasaan ke-Tuhanan.
(a) Perasaan
intelektual yaitu perasaan yang timbul apabila orang dapat memecahkan soal,
atau mendapatkan hal – hal baru sebagai hasil kerja dari segi intelektualnya.
Misalnya seorang anak akan senang apabila dapat memcahkan sola hitungan yang
menurut ukurannya sla tersebut sangat sulit.
(b) Perasaan
kesusilaan yaitu persaan yang timbul apabila orang mengakami hal – hal baik
atau buruk menurut norma norma kesusilaan. Misalnya apabila seorang ketika
berbuat baik ia akan merasa senang abila berbuat sebaliknya ia akan mengalami
rasa tidak senang.
(c) Perasaan
keindahan atau perasaan beretika, perasaan ini timbul apabila seseorang
mengalami sesuatu yang indah atau tidak indah.
(d) Perasaan
kemasyarakatan atau perasaan sosial, persaan ini timbul dalam hubungannya
dengan interaksi sosial, yaitu hubungan individu satu dengan individu lainnya.
Misalnya perasaan senang atau simpati, tidak senang atau antipati dan uga
perasaan kebangsaan.
(e) Perasaan
harga diri, perasaan ini merupakan perasaan yang menyertai harga diri
seseorang. Persaan ini dapat menjadi positif apabila seseorang menghargai
dirinya dengan baik dan akan menjadi negatif apabila tidak menghargai dirinya
dengan baik.
(f) Perasaan
ke-Tuhanan, perasaan ini timbul menyertai kepercayaan kepada Tuhan yang
mempunyai sifat – sifat serba sempurna. Persaan percaya ini membuat seseorang
untuk berbuat baik, berbuat sholeh.
Komentar
Posting Komentar