Langsung ke konten utama

MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT DAN SEKOLAH


MANAJEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT DAN SEKOLAH


A.     Pengertian Hubungan Masyarakat
International Public Relation Association menyatakan bahwa kerja humas adalah fungsi manajemen yang khas yang mendukung pembinaan dan pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dan publiknya mengenai komunikasi,pengertian, penerimaan, dan kerja sama, dengan melibatkan penerangan dan tanggapan dalam hubungan dengan opini publik, menetapkan dan menekankan tanggung jawab manajemen untuk melayani kepentingan umum, menopang manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan secara efektif,bertindak sebagai sistem peringatan yang dini dalam membantu kecenderungan,dan menggunakan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etissebagai sarana utama (Nasution, 2010:11)
Sementara itu menurut Bernays (1945) dalam menyebutkan bahwa humas mempunyai tiga pengertian yaitu ;(1) memberikan penerangan kepada masyarakat; (2) membujuk masyarakat untuk mengubah sikap dan tindakan; (3) mengusahakan untuk mengintegrasikan sikap dan tindakan organisasi dengan masyarakat dan begitu pula sebaliknya. (Suryosubroto 2012)
Humas merupakan fungsi pembantu pimpinan, berhubungan dengan itu unit humas atau pejabat humas berada di bawah pimpinan organisasi. Apabila organisasi telah dibentuk aktivitas humas maka unit pejabat itu yang bertanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan humas. Humas bukan hanya merupakan tanggung jawab unit humas atau pimpinan saja tetapi merupakan tanggung jawab dari setiap pimpinan dan anggota organisasi yang bersangkutan.

  B.     Pengertian Manajemen Hubungan Sekolah Dengan  Masyarakat
Hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengertian anggota masyarakat tentang kebutuhan pendidikan serta mendorong minat dan kerja sama para anggota masyarakat dalam rangka memperbaiki sekolah.
Sementara itu Maisyaroh  (2004:119) menyatakan bahwa manajemen hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah proses mengelola komunikasi lembaga pendidikan dengan masyarakat mulai dari kesiatan perencanaan sampai pada pengendalian terhadap proses dan hasil kegiatan sekolah.
Minarti (2012:281) berpendapat secara etimologis, hubungan sekolah dan masyarakat di terjemahkan dari kata Bahasa Inggris public school relation, yangberarti sebagai hubungan timbal balik antara organisasi (sekolah) dengan masyarakat atau lingkungan yang terkait. Menurut Minarti  hubungan antara sekolah dan masyarakat dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
1.    Hubungan edukatif ialah hubungan kerjasama dalam hal mendidik siswa, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga;
2.    Hubungan kultural yaitu usaha kerjasama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya hubungan saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada;
3.    Hubungan institusional yaitu hubungan kerjasama antara sekolah dan lembaga-lembaga atau instansi resmi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hubungan kerjasama antara sekolah satu dengan sekolah-sekolah lainnya, kepala pemerintah setempat, ataupun perusahaan-perusahaan negara, yang berkaitan dengan perbaikan dan perkembangan pendidikan pada umumnya.

C.     Hakikat dan Ciri-Ciri Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Hubungan sekolah dengan masyarakat diartikan sebagai “public relation” dalam bahasa inggris, yaitu hubungan timbal balik sekolah dengan warga masyarakatnya. Hubungan sekolah dengan masyarakat pada hakikatnya merupakan suatu sarana yang sangat berperan dalam mebina dan mengembangkan pertumbuhan pribadi peserta didik di sekolah.
Berikut ini hakikat sekolah dan masyarakat menurut pandangan filosofis yaitu :
1.    Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat ;
2.    Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan ;
3.    Kemajuan sekolah dan masyarakat saling berkorelasi.
Ciri-ciri hubungan masyarakat dengan sekolah merupakan  yang bersifat hubungan timbal balik yang menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak, hubungan bersifat sukarela berdasarkan prinsip bahwa sekolah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat dan juga hubungan bersifat kontinyu /berkesinambungan antara sekolah dengan masyarakat.

D.     Tujuan dan Fungsi Humas Dengan Masyarakat
Tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat menurut Purwanto (1987) adalah:
1.      Mengenalkan pentingnya sekolah bagi masyarakat;
2.      mendapatkan dukungan dan bantuan baik moril maupun financial yang diperlukan bagi pengembangan sekolah;
3.      memberikan informasi kepada masyarakat tentang isi dan pelaksanaan program sekolah
4.      memperkaya dan memperluas program sekolah sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan sekolah.
Masyarakat memiliki sumber daya manusia  maupun sumber daya non manusia. Sekolah dari kedua sumber tersebut dapat memilih dan mendayagunakan untuk program pendidikan sekolah. Jika sekolah berhasil mendayagunakan secara optimal, maka hasil belajar siswa akan lebih baik , sehinga potensi siswa akan tumbuh dan berkembang secara optimal, hal ini berdampak pada output atau lulusan sekolah secara langsung akan ikut serta dalam memajukan penghidupan dan kehidupan masyarakat karena lulusan yang berkualitas merupakan magnet bagi sekolah terhadap masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam program pendidikan sekolah.
Sementara itu tujuan pengembangan hubungan sekolah dengan masyarakat ditinjau dari kepentingan sekolah menurut Purwanto (1987) bertujuan untuk:
1.      memelihara kelangsungan hidup sekolahan;
2.      meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan;
3.      memperlancar proses belajar mengajar;
4.      memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan program sekolah.
Demikian jika ditinjau dari kebutuhan masyarakat, tujuan pengembangan hubungan sekolah dengan masyarakat menurut Purwanto (1987) adalah untuk :
1.      memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
2.      memperoleh bantuan sekolah dalammemecahkan berbagai masalah yang dihdapi masyarakat;
3.      menjamin relevansi program sekolah dengan kebutuhan masyarakat;
4.      memperoleh kembali anggota-anggota masyarakat yang makin meningkat kemampuannya.

Sedangkan  jika fungsi hubungan sekolah dengan masyarakat  menurut Purwanto (1987) adalah:
1.      menunjang aktivitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama;
2.      membina hubungan yang harmonis antara sekolah dengan masyarakat yang merupakankhalayak sasaran;
3.      menciptakan komunikasi dua arah timbal balik , danmengatur informasi, publikasi, serta pesan dari sekolah, kepada masyarakat dan begitu pula sebaliknya, demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak;
4.      melayani keinginan dan kebutuhan masyarakat dan memberikan sumbang saran kepada pimpinan sekolah demi pencapaian tujuan dan manfaatbersama;
5.      mengidentifikasi segala sesuatu yang berkaitan denganopini, persepsi, dan tanggapan masyarakat terhadap sekolah, atau sebaliknya.

E.      Prinsip-Prinsip Peningkatan Partisipasi Masyarakat
                   Mulyono (2010) mengemukakan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat
1.      Keterpaduan (integrity), prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus terpadu;
2.      Berkesinambungan (continuity), prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat harus dilakukan secara terus menerus;
3.      Sederhana (simplicity), prinsip ini menghendaki agar di dalam proses hubungan sekolah dengan masyarakat, pihak pemberi informasi (sekolah) menyajikan informasi sesederhana mungkin kepada masyarakat;
4.      Menyeluruh (coverage), prinsip ini menghendaki agar kegiatan pemberian informasi kepada masyarakat dilakukan secara menyeluruh dan mencakup semua aspek. Prinsip ini juga menghendaki bahwa segala informasi hendaknya lengkap, akurat, dan up to date;
5.      Konstruktif (constructiveness), prinsip ini menghendaki agar sekolah memberikan informasi yang dapat membentuk pendapat umum masyarakat yang positif terhadap sekolah;
6.      Kesesuaian (adaptability), prinsip ini menghendaki adanya kesesuaian dalam proses penyampaian informasi antara lingkungan masyarakat dengan sekolah;
7.      Relevansi, prinsip ini menghendaki agar peran dan fungsi lembaga pendidikan ditentukan sesuai dengan kondisi masyarakat yang menjadi latar belakang peserta didik.

Untuk mencapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat menurut Elsbree (1967) harus memperhatikan 9 prinsip sebagai pedoman dalam melaksanakan program antara sekolah dan masyarakat yaitu :
1.      Sekolah mengetahui apa yang diyakini;
2.      Sekolah melaksanakan program pendidikan dengan baik dan bersahabat dengan masyarakat;
3.      Sekolah mengetahui masyarakatnya;
4.      Sekolah melakukan survei mengenai masyarakat di daerah tersebut;
5.      Sekolah mempelajari masyarakat dan daerahnya melaui dokumen-dokumen;
6.      Keanggotaan dalam masyarakat;
7.      Sekolah mengadakan kunjungan ke rumah;
8.      Sekolah melayani masyarakat di daerahnya;
9.      Sekolah mendorong agar masyarakat bersedia untuk melayani sekolah

F.      Keterkaitan Masyarakat Dengan Lembaga Pendidikan
Indrafachrudi (1989 : 225) menyatakan bahwa hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakikatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah.
Demikian pendapat dari Elsbree menyatakan bahwa ada 3 faktor penyebab sekolah harus menjalin hubungan dengan masyarakat, yaitu: (1) faktor perubahan sifat, tujuan, dan metode mengajar di sekolah; (2) faktor masyarakat, yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di sekolah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah; (3) faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat terhadap pendidikan  (Indrafachrudi, 1989 : 225).
Sedangkan Maisyaroh (2004:119) mengemukakan hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara lembaga pendidikan dan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap kebutuhan dan praktik pendidikan dan pada karirnya bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di lembaga pendidikan.
Hubungan sekolah dengan lembaga lain bersifat saling memengaruhi dan timbal balik. Misalnya :
1.      Hubungan sekolah dengan pembayaran pajak yang bersifat pertanggung jawaban secara hukum terutama sekolah milik pemerintah;
2.      Hubungan sekolah dengan masyarakat dapat dalam jenis hubungan edukatif, kultural, ataupun instruksional;
3.      Hubungan sekolah dengan perusahaan terutama dalam bentuk penempatan praktik kerja siswa dan penyerapan siswa setelah lulus sekolah;
4.      Hubungan sekolah dengan anggota legislatif berkaitan dengan kebijaksanaan pendidikan sekolah yang dikeluarkan eksekutif harus berdasarkan atas pertimbangan anggita legislatif;
5.      Hubungan sekolah dengan pengawasan pendidikan berkaitan dengan pelaksanaan supervisi pengajaran dari pengawas kepada guru di sekolah;
6.      Hubungan sekolah dengan asosiasi pendidikan, misalnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), berkaitan dengan profesi tenaga pendidik dengan tenaga kependidikan;
7.      Hubungan sekolah dengan perguruan tinggi terutama terkait dengan jenis hubungan edukatif.

G.     Jenis Jenis Kelompok Masyarakat
Jenis-jenis kelompok masyarakat menurut Leslie (1988:217-264) yaitu :
1.         Kelompok Kewarganegaraan (Civic)
Merupakan kelompok masyarakat yang memikirkankepentingan umum berkaitan dengan masalah pendidikan masyarakat,kesejahteran social, atau menghadapi anak yang nakal (delinquency) yangbertujuan memperbaki kondisi social masyarakat.
2.         Kelompok Budaya (Cultural)
Merupakan kelompok masyarakat yang bergerak dalambidang kebudayaan, misalnya seni music, drama atau literasi.
3.         Kelompok Ekonomi (Economics)
Merupakan kelompok masyarakat yang bergerak dalambidang usaha untuk mendapatkan keuntungan.
4.         Kelompok Persahabatan (Fraternal)
Kelompok yang bergerak untuk mengembangkan rasa persahabatan dan mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bersifat rekreatif bertujuan meningkatkan rasa persaudaraan di antara parasiswa.
5.         Kelompok Pemerintahan (Government);
Kelompok yang bertugas melayanikepentingan masyarakat sebagai warga Negara.
6.         Kelompok Patriotic (Patriotic)
Kelompok yang bergerak dalam bidang pembinaan kewarganegaraanyang menekankan pada pengajaran tentang sistem pemerintahan, undang-undang,hak dan kewajiban warga negara, dan patriotisme (cinta tanah air).
7.         Kelompok Political (Political)
Kelompok yang bergerak dalam bidang politik.
8.         Kelompok Ahli (Professional)
Kelompok yang bergerak dalam bidang sesuai dengan profesi profesi yangada dalam masyarakat.
9.         Kelompok Kesejahteraan (Welfare)
Kelompok yang focus pada usahamensejahterakan warga masyarakat secara luas.    
10.      Kelompok Kepemudaan (Youth)
Kelompok yang bertujuan membina generasi mudaagar menjadi wargayang sesuai dengan pandangan hidup negara.

H.     Teknik Peningkatan Partisipasi Masyarakat
Menurut Hymes teknik peningkatan partisipasi masyarakat dapat dikelompokan menjadi 4, yaitu:
a.       Teknik pertemuan kelompok, dapat berupa diskusi, seminar, lokakarya, dan sarasehan.
b.      Teknik tatap muka, pihak lembaga pendidikan dapat berkunjung kerumah siswa yang menghadapi masalah atau mengunjungi pihak-pihak yang sekiranya dapat membantu.
c.       Observasi dan partisipasi, dalam hal ini masyarakat mengunjungi, mengobservasi, dan berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.
d.      Surat – menyurat dengan berbagai pihak yang dapat dikaitkan dengan penyelenggaraan pendidikan. (Indrafachrudi, 1994:66)

Sementara itu Layanan Riset Pendidikan dan Asosiasi Nasional Kepala Pendidikan Dasar di Alexandria merumuskan berbagai teknik untuk meningkatkan partisipasi berbagai pihak dalam menyelenggarakan pendidikan, yaitu:
1.      layanan masyarakat, dalam hal ini sekolah mempelajari kebutuhan masyarakat dan melihat apa yan bisa di perbuat lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat;
2.      program pemanfaatan alumni sekolah , para alumni sekolah dapat dilibatkan dalam kegiatan sekolah, seperti menjadi pembicara dalam kegiatan seminar di sekolah;
3.      masyarakat sebagai model, masyarakat menjadi model siswa di sekolah terutama masyarakat yang telah berhasil di kehidupannya;
4.      open haouse, lembaga pendidikan secara terbuka bersedia di observasi oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat melihat secara langsung proses pendidikan dan sarana pendidikan di sekolah;
5.      pemberian kesempatan kepada masyarakat, lembaga pendidikan memberikan kesempatan kepada masyarakat secara sukarela untuk membantu kegiatan lembaga  pendidikan;
6.      pengiriman pembicara, anggota staff lembaga pendidikan yang berminat di beri kesempatan untuk mempromosikan program dan prestasi lembaga pendidikan kepada masyarakat;
7.      masyarakat sebagai sumber informasi, pihak lembaga pendidikan menanyakan kepada anggota masyarakat tentang isu-isu yang hangat dan dibuat rekomendasi untuk pengembangan lembaga pendidikan;
8.      diskusi panel, dalam hal ini siswa, orang tua, dan guru mengadakan pertemuan untuk menindaklanjuti kegiatan hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat aga semua usaha yang telah dilakukan dapat dirasakan manfaatnya (Maisyaroh, 2003 : 127)

I.        Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah
                  Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 54 ayat 1 menyatakan peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisai kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan. Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan. Badan yang mewadahi peran serta masyarakat dalam pendidikan adalah Dewan Pendidikan Dan Komite Sekolah.


Daftar Rujukan
Ali Imron, Burhanudin dan Maisyaroh. 2003. Manajemen Pendidikan. Malang : Universitas Negeri Malang
Elsbree, Willard. 1967. Elementary School Administration and supervision. New York : American Book Co.
Indrafachrudi, Soekarto dan Soetop, H. 1989. Administrasi Pendidikan. Malang : IKIP Malang
Minarti,Sri. 2012. Manajemen Sekolah: Mengelola Lembaga Pendidikan Secara Mandiri. Jogjakarta: AR-RUZZ media.
Maisyaroh. 2004. Buku Ajar: Hubungan Masyarakat. Malang: Jurusan Administrasi Pendidikan UM.
Nasution, Zulkarnain. 2010. Manajemen Humas di Lembaga Pendidikan. Malang : UMM Press
Suryosubroto, B. 2012. Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta
Purwanto, M. Ngalim. 1987. Adminitrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2008. Jakarta : Sinar Grafika

 JANGAN LUPA TINGGALKAN KRITIK DAN SARAN PADA KOMENTAR :) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INFORMATIF! PERBEDAAN FANTASI, INTELEGENSIA DAN PERASAAN

Fantasi Yang dimaksud dengan fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau kedepan, ke keadaan-keadaan yang mendatang. Fantasi sebagai kemampuan jiwa manuia dapat terjadi: 1.       Secara disadari, yaitu apabila individu-individu betul-betul menyadari akan fantasiny. Misalnya seorang pelukis yang sedang menciptakan lukisan dengan kemampuan fantasinya, seorang pemahat yang sedang memahat arca dengan dasar daya fantasinya. 2.       Secara tidak disadari, yaitu apabila individu tidak sadar telah dituntun oleh fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak. Anak seting mengemukakan hal hal yang bersifat fantastis, sekalipun tidak ada niat atau maksud dari anak untuk berdusta. Misalnya seorang anak memberikan berita yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sekalipun...

REKOMENDASI FILM YANG COCOK DITONTON MAHASISWA SAAT DI KOS PART 1

Pasti bingung apa yang akan dilakukan diakhir pekan, apalagi sebagai mahasiswa yang merantau jauh dari rumah. Mau pulang ke kampung halaman, hemat uang. Mau keluar jalan, uang buat makan minggu depan. Mau pergi ke Mall, nggak punya temen. Yuk, simak kegiatan ini bisa dilakukan tanpa modal. Cukup siapkan WiFi kos yang lancar untuk streaming atau kalian bisa pergi ke Telkom untuk mendownload filmnya. Banyak pelajaran atau moral value yang akan dapat diambil di film ini. Selain itu bisa juga dijadikan ajang untuk olahraga air mata. Ini dia beberapa rekomendasi film yang dapat ditonton disela sela akhir pekan versi aku! 1. Miracle In Cell No. 7 (2013) Super rekomended untuk mengasah kepekaan hati kalian, apalagi yang jauh dari rumah. Selain itu film ini mendapatkan banyak reward dari korea. Ditetapkan dibanyak situs sebagai film tersedih sepanjang masa. Auto menangis, bukan kaleng kaleng lagi pastinya. Menceritakan seorang anak perempuan yang tinggal dengan ayahnya yang me...

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA: STRATEGI REKRUTMEN SUMBER DAYA MANUSIA AGAR LEBIH SELEKTIF DAN EFEKTIF

STRATEGI REKRUTMEN SUMBER DAYA MANUSIA AGAR LEBIH SELEKTIF DAN EFEKTIF STUDI KASUS SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL Idqa Nanda Ayu Okky Irwina Savitri Salsabilla Taftania E-mail: idqnnd2803@gmail.com , okkyirwinasvtr@gmail.com , salsabillataf@gmail.com Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang 65145 Abstract: This research has purpose to describtion the strategy of recruitment human resources, recruitment is the process of obtaining new human resources to fulfill positions within an organization or a particular agency.This research used qualitative approach with research type of case study research and supported by using literacy analysis. The results of this research are: techniques in the recruitment process of human resources, weaknesses and strengths of human resource recruitment techniques, all recruitment processes from the beginning to the process of receiving human resources at Bra...