Langsung ke konten utama

MANAJEMEN PESERTA DIDIK: INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MANEJEMEN PESERTA DIDIK


INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM MANEJEMEN PESERTA DIDIK


MAKALAH
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Peserta Didik
Yang dibina oleh Dra. Djum Djum Noor Benty, M.Pd



Oleh:
Balqis Fitria                 170131601056
Idqa Nanda Ayu         170131601047
Meiron Yikwa             170131601108


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
SEPTEMBER, 2018



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena anugerah dari-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang pembahasan pendidikan karakter guna memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Peserta Didik di Universitas Negeri Malang (UM).
            Dengan adanya pembuatan makalah ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi para pembaca sebagai bahan referensi makalah kedepannya juga dapat meningkatkan pengetahuan tentang bahasan yang kami rangkum dari makalah ini.
            Berbagai kendala kami alami untuk menyusun makalah ini dapat teratasi dengan adanya bantuan, bimbingan, dari semua pihak terutama dosen Manajemen Peserta Didik yang selalu membimbing dalam penyusunan makalah ini.
            Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini bisa bermanfaat dan jangan lupa ajukan kritik dan saran terhadap makalah ini agar kedepannya bisa diperbaiki. Karena kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna.


Malang, 4 September 2018


Penyusun






DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR                                                                          ii
DAFTAR ISI                                                                                          iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                                                              1
B.     Rumusan Masalah                                                             1
C.     Tujuan Makalah                                                                            2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendidikan Karakter                                                   3
B.     Tujuan Pendidikan Karakter                                                         4
C.     Fungsi Pendidikan Karakter                                                         5
D.    Media Pendidikan Karakter                                                          6
E.     Nilai Nilai Pembentuk Karakter                                                    7
F.      Proses Pendidikan Karakter                                                          9
G.    Strategi  Implementasi Pendidikan Karakter                                10
H.    Tahap Perkembangan Pendidikan Karakter                                  12
BAB III PENUTUP
Kesimpulan                                                                                         16
DAFTAR RUJUKAN                                                                           17

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespons sesuatu. Dan dapat dinyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadi pendorong atau penggerak, serta membedakan nya dengan individu lain.
Pendidikan karakter segabai upaya penanaman kecerdasandalam berfikir, penghayatan dalam bentuk sikappengalaman dengan perilaku yang sesuai dengan nilai nilai luhur.Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermora, sopan santun dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat sesuai tujuan dalam pendidikan karakter.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari pendidikan karakter?
2.      Apakah tujuan pendidikan karakter?
3.      Apa fungsi pendidikan karakter?
4.      Apa saja media pendidikan karakter?
5.      Apa saja nilai nilai pembentuk karakter?
6.      Bagaimana proses pendidikan karakter terjadi?
7.      Bagaimana strategi implementasi pendidikan karakter?
8.      Bagaimana tahap perkembangan pendidikan karakter?

C.  Tujuan
1.      Menjelaskan pengertian pendidikan karakter;
2.      Menjelaskan tujuan pendidikan karakter;
3.      Menjelaskan tentang pentingnya fungsi pendidikan karakter;
4.      Menjelaskan tentang media yang digunakan dalam pendidikan karakter;
5.      Menjelaskan tentang nilai-nilai pendidikan karakter;
6.      Menjelaskan bagaimana proses pendidikan karakter;
7.      Menjelaskan strategi implementasi pendidikan karakter;
8.      Menjelaskan tahap perkembangan pendidikan karakter.

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Megawangi (2005: 5), pendidikan karakter dalah sebuah usaha untuk mendidik anak anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi positif pada lingkungannya. Dafinisi lain dikemukakan oleh Mulyasa (2012), pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik yang meliputi komponen: kesadaran, pemahaman, kepedulian, dan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan nilai-niai tersebut, baik terhadap Tuhan, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun masyarakat dan bangsa secara keseluruhan, sehingga menjadi manusia yang sempurna sesuai kodratnya.
Pendidikan karakter merupakan upaya sistematis untuk menanamkan sekaligus mengembangkan secara konsisten dan terus menerus kualitas karakter berbasis nilai agama, sosial, dan budaya oleh peserta didik dirumah, disekolah maupun dilingkungan masyarakat sehingga dapat membentuk perilaku karakter. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik untuk keluarga, masyarakat dan lingkungannya. Menurut Koesoema (2010:28) memahami karakter sama dengan karakter sama dengan kepribadian, yaitu cirri atau sifat karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentukan bentukan yang diterima dari lingkungan semasa kecil.
            Jadi bisa disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan dan mendidik nilai-nilai luhur dalam berinteraksi dengan Tuhannya, lingkungan keluarga, antar sesama, sekolah ataupun masyarakat itu sendiri. Nilai nilai luhur tersebut antara lain ialah kejujuran, kemandirian, sopan santun, hubungan sosial, kecerdasan intelektual dan berfikir logis. Penanaman pendidikan karakter diperlukan proses, contoh teladan dan juga pembiasaan sehingga mereka dapat memiliki nilai nilai karakter dan diterapkan dikehidupannya sendiri.


B.Tujuan Pendidikan Karakter
Menurut (Mulyasa:2012) pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. Melalui pendidikan karakter peserta didik diharapkan mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Tujuan pertama pendidikan karakter adalah memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses sekolah (lulus dari sekolah). Penguatan dan pengembangan memiliki makna bahwa pendidikan dalam setting sekolah merupakan dogmatisasi nilai kepada peserta didik untuk memahami dan merefleksi bagaimana suatu nilai menjadi penting untuk diwujudkan dalam perilaku keseharian manusia, termasuk bagi anak. Penguatan juga mengarahkan proses pendidikan pada proses pembiasaan yang dilakukan baik dalam setting kelas maupun sekolah. Penguatan pun memiliki makna adanya hubungan antara penguatan perilaku melalui pembiasaan di sekolah dengan di rumah.
Tujuan kedua pendidikan karakter di sekolah adalah mengoreksi perilaku peserta didik yang tidak bersusaian dengan nilai-nilai yang dikembangkan sekolah. Tujuan ini memiliki makna bahwa tujuan pendidikan karakter memiliki sasaran untuk meluruskan berbagai perilaku negatif anak menjadi positif. Proses penulusuran yang dimaknai sebagai pengoreksian perilaku dipahami sebagai proses pedagogis bukan suatu pemaksaan atau pengondisian yang tidak mendidik. Proses pendagogis dalam pengoreksian perilaku negatif diarahkan pada pola pikir anak, kemudian dibarengi dengan keteladanan lingkungan sekolah dan rumah, dan proses pembiasaan berdasarkan tingkat dan jenjang sekolahnya.
Tujuan ketiga dalam pendidikan karakter setting sekolah adanya membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dengan


memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama. Tujuan ini memiliki makna karakter di sekolah harus dihubungkan dengan proses pendidikan di keluarga. Jika pendidikan di sekolah hanya bertumpu pada interaksi antara peserta didik dengan guru di kelas atau sekolah, maka pencapaian berbagai karakter yang diharapkan akan sulit tercapai. Karena penguatan perilaku merupakan suatu hal yang holistik atau menyeluruh, bukan suatau rentangan waktu yang dimiliki oleh anak. Dalam setiap menit dan detik, interaksi anak dengan lingkungannya dapat dipastikan akan terjadi proses memengaruhi perilaku anak.
C. Fungsi Pendidikan Karakter
Fungsi pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan potensi dasar seorang anak agar berhati baik, berperilaku baik, serta berpikiran yang baik. Dengan fungsi besarnya untuk memperkuat serta membangun perilaku anak bangsa yang multikultur. Selain itu pendidikan karakter juga berfungsi meningkatkan peradaban manusia dan bangsa  yang baik  di dalam pergaulan dunia. Pendidikan karakter dapat dilakukan bukan hanya di bangku sekolah, melainkan juga dari bergai media yang meliputi keluarga, lingkungan, pemerintahan, dunia usaha, serta media teknologi.
Menurut Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (2010)  bahwa pendidikan karakter memiliki tiga fungsi utama yaitu , yang pertama membentuk dan pengembangan potensi, pendidikan karakter sendiri berfungsi untuk membentuk dan mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia untuk berfikir lebih baik, berhati baik dan juga berperilaku baik sesuai filsafah hidup pancasila. Yang kedua adalah perbaikan dan penguatan, pendidikan karakter berfungsi memperbaiki karakter manusia dan warga negara indonesia yang bersifat negatif dan juga memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat yang dinaungi pemerintah untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pengembangan potensi manusia menuju bangsa yang berkarakter dan mandiri. Yang ketiga yaitu penyaring, pendidikan karakter bangsa sendiri juga mempunyai fungsi memilih nilai–nilai bangsa sendiri dan juga menyaring nilai budaya


bangsa lain yang positif untuk menjadi karakter manusia dan juga warga negara agar menjadi bangsa yang bermartabat.
D. Media Pendidikan Karakter
Membentuk karakter peserta didik memang tidak mudah dan tidak hanya dilakukan lewat materi tertulis, namun juga harus langsung menyediakan alat bantu yang dapat mendukung terlaksananya pendidikan karakter. Selain hal itu dapat langsung memberikan dampak, namun juga membuka sifat jujur pada dirinya. Beberapa contoh media pendidikan karakter, antara lain:
1.      Modul atau Teks
Modul atau teks yang dilengkapi gambar gambar dikemas dalam tema yang terpilih yang berpusat pada karakteristik mahasiswa, disertai bahan diskusi, pertanyaan danbahan refleksi.
2.      Multimedia atau Media Online
Pendidikan karakter dapat dikemas melalui media online seperti bentuk gambar, suara, animasi dan video yang semakin memudahkan untuk dipelajari yang berisi peristiwa-peristiwa yang menggambarkan konteks kehidupan sehari-hari sesuai tema yang dapat dipilih.
3.      Kantin Kejujuran
Kantin kejujuran dinilai dapat membantu menumbuhkan karakter anak, melalui kantin kejujuran anak dilatih bersikap jujur, tanggung jawab serta pandai dalam membatasi perilaku. Karena kanti kejujuran tidak ada yang mengawasi, sehingga anak dilatih mandiri dalam melayani dirinya sendiri dan juga untuk jujur dan bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat.
Media pendidikan karakter berkualitas apabila dapat menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, mampu memfasilitasi interaksi antar pesserta didik dan guru, peserta didik dan orang kompeten serta peserta didik dan lingkungan, selanjutnya media juga dapat memperkaya pengalaman, serta mampu merubah suasana belajar mahasiswa dari yang pasif menjadi aktif berdiskusi dan mengeksplorasi dari berbagai sumber.



E. Nilai Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter bukan hanya sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah. Lebih dari itu, pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya.
Dalam buku ini ditegaskan bahwa budi pekerti dapat dikatakan identik dengan morality (moralitas). Namun juga ditegaskan bahwa sesungguhnya pengertian budi pekerti yang paling hakiki adalah perilaku. Sebagai perilaku,  budi pekerti meliputi pula sikap yang dicerminkan oleh perilaku.dalam kaitan ini sikap dan perilaku budi pekerti mengandung lima jangkaun sebagai berikut: (1) sikap dan perilaku dalam hubungan dengan Tuhan; (2) sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan diri sendiri; (3)sikap dan perilaku dalam hubungan dengan keluarga; (4) sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan masyarakat dan bangsa, dan;  (5) sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan alam sekitar.
            Semantara itu, dalam desain induk pendidikan karakter antara lain diutarakan bahwa secara substansif  karakter terdiri atas 3 (tiga) nilai opertif (operative value), nilai-nilai dalam tindakan atau tiga unjuk perilaku antar satu sama yang lain saling berkaitan dan terdiri atas pengetahuan tentang moral (moral knowing, aspek kognitif), perasaan berlandasan moral (moral feeling, aspek efektif), dan perilaku berlandasan moral (moral behavior, aspek psikomotorik). Karakter yang baik (good character) terdiri atas proses-proses yang meliputi, tahu mana yang baik (knowing the good), keinginan melakukan yang baik (desiring the good), dan melakukan yang baik (doing the good). Kecuali itu karater yang baik juga harus ditunjang oleh kebiasaan pikir (habit of the mind), kebiasaan kalbu (habit of the heart), dan bahwa konfigurasi karater dalam konteks realitas psikologi dan juga sosial-kultural tersebut dikatogerikan menjadi: Olah hati (sipiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olahraga dan kinestetik (physical and kinesthetic development), dan olah rasa dan karsa (affective and creativity development).
            Dalam kaitan implementasi nilai-nilai dan proses-proses tersebut di atas, pendidikan bagi anak dilaksanakan dengan maksud memfasilitasi mereka untuk menjadi orang yang memiliki kualitas moral, kewarganegaraan, kebaikan, kesantunan, rasa hormat, kesehatan, sikap kritis, keberhasian, kebiasaan, insan yang kehadirannya dapat diterima dalam masyarakat, dan kepatuhan. Dalam hal ini mengutip Lickona (1991), “pendidikan karatek secara psikologis harus mencakup dimensi penalaran berlandasan moral (moral reasoning), perasaan berdasarkan moral (moral feeling), dan perilaku berasaskan moral (moral behavior). Dalam pendidikan karakter diinginkan terbentuknya anak yang mampu menilai apa yang baik, memelihara secara tulus apa yang dikatakan baik itu, dan menyebutkan apa yang diyakini baik walaupun dalam situasi tertekan (penuh tekanan dari luar, pressure from whithout) dan penuh godaan yang muncul dari dalam hati sendiri (temptatioin from whithin)”.
            Dalam kaitan ini pada Grand Design pendidikan karater diungkapkan nilai-nilai yang  terutama akan dikembangkan dalam budaya satuan pendidikan formal dan nonformal, dengan penjelasannya sebagai berikut:
1.      Jujur, menyatakan apa adanya, terbuka, konsisten antara apa yang dikatakan dan dilakukan (berintergritas), berani karena benar, dapat dipercaya (amanah, trustworthiness), dan tidak curang (no chhting).
2.      Tanggung jawab, melakukan tugas sepenuh hati, bekerja dengan etos kerja yang tinggi, berusaha keras untuk mecapai prestasi tebaik (giving the best), mampu mengontrol diri dan mengatasi stres, berdisiplin diri, akuntabel terhadap pilihan dan keputusan yang diambil.
3.      Cerdas, berpikir secara cermat dan tepat, bertindak dengan penuh perhitungan, rasa ingin tahu yang tinggi, berkominikasi efektif dan empatik, bergaul secara santun, menjunjung kebenaran dan kebajikan, mencintai Tuhan dan lingkungan.
4.      Sehat dan Bersih, mengaragai, ketertiban, keteraturan, kedisiplinan, terampil, menjaga diri dan lingkungan, menerapkan pola hidup seimbang.
5.      Peduli, meperlakukan orang lain dengan sopan, bertindak santun, toleran terhadap perbedaan, mau mendengarkan orang lain, mau berbagi, tidak merendahkan orang lain, mampu bekerja sama, menyayangi manusia dan makhluk lain, setia cinta damai dalam menghadapai persoalan.
6.      Kreatif, mampu menyelesaikan masalah secara inovatif, luwes, kritis, berani mengambil  keputusan dengan cepat dan tepat, memiliki ide baru, ingin terus berubah.
7.      Gotong Royong, mau bekerja sama dengan baik, tidak memperhitungkan tenaga jika mau berbagi, dengan sesama, saling berbagi dan tidak egoistis.
Berkaitan dengan itu semakin mendesaknya implementasi pendidikan pendidikan karakter tersebut, Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan Nasional(2011) menyatakan bahwa pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, beriorentasi ilmu pengetahuan dan teknologi, yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Sejumlah nilai-nilai pembentuk karakter yang merupakan hasil kajian empirik pusat kurikulum. Nilai-nilai yang bersumber dari  agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional tersebut adalah rasa religious, sikap jujur, rasa toleransi, sifat disiplin, karakter kerja keras, rasa kreatif, sifat mandiri, rasa demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, rasa cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, rasa peduli lingkungan dan peduli sosial serta tanggung jawab.

F. Proses Pembentukan Karakter
            Proses pembentukan karakter didasarkan sesuai tahap usia, menurut Ardy (2012) seperti berikut:
1.      Tahap pertama adalah membentuk adab, antara usia 5 sampai 6 tahun. Tahapan ini meliputi jujur, mengenal antara yang benar dan yang salah, mengenal antara yang baik dan yang buruk serta mengenal mana yang diperintahkan, misalnya dalam agama.
2.      Tahap kedua adalah melatih tanggung jawab diri antara usia 7 sampai 8 tahun. Tahapan ini meliputi perintah menjalankan kewajiban shalat, melatih melakukan hal yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi secarmandiri, serta di didik untuk selalu tertib dan disiplin sebagaimana yang telah tercermin dalam pelaksanaan shalat mereka.
3.      Tahap ketiga adalah membentuk sikap kepedulian antara usia 9sampai 10 tahun. Tahapan ini meliputi diajarkan untuk peduli terhadap orang lain terutama teman-teman sebaya, dididik untuk menghargai dan menghormati hak orang lain, mampu bekerjasama serta mau membantu orang lain.
4.      Tahap keempat adalah membentuk kemandirian, antara usia 11 sampai 12 tahun. Tahapan ini melatih anak untuk belajar menerima resiko sebagai bentuk konsekuensi bila tidak mematuhi perintah, dididik untuk membedakan yang baik dan yang buruk.
5.      Tahap kelima adalah membentuk sikap bermasyarakat, pada usia 13 tahun ke atas. Tahapan ini melatih kesiapan bergaul di masyarakat berbekal pada pengalaman sebelumnya. Bila mampu dilaksanakan dengan baik, maka pada usia yang selanjutnya hanya diperlukan penyempurnaan dan pengembangan secukupnya. 

G. Strategi Implementasi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter di sekolah adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah sehingga menjadi insan kamil. Nilai-nilai tersebut meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Penerapan pendidikan karakter di sekolah setidaknya dapat ditempuh melalui empat alternatif strategi secara terpadu. Pertama, mengintegrasikan konten pendidikan karakter yang telah dirumuskan ke dalam seluruhmata pelajaran. Kedua, mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Ketiga, mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan. Keempat, membangun komunikasi dan kerja sama antara sekolah dengan orang tua peserta didik.
            Dengan demikian, strategi implementasi manajemen pendidikan karakter di sekolah dilakukan dengan: mewujudkan komitmen guru dalam pelaksanaan pendidikan karakter (komponen guru), mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kurikulum (komponen kurikulum), membuat rencana pembiayaan yang berpihak pada pelaksanaan pendidikan karakter (komponen pembiayaan), dan mendesain dan menciptakan budaya sekolah berbasis pendidikan karakter (komponen pengelolaan).
            Menurut Zubaedi (2011: 234) pendidikan dengan metode penanaman nilai bisa menggunakan strategi sebagai berikut: (a) menargetkan penanaman nilai nilai kebaikan seperti: kesabaran, kesopanan, kejujuran, tanggung jawab, toleransi, patriotisme, peraaan kasihan, dan sensitivitas; (b) penggunaan karya sastra non fiksi, misalnya perjuangan lewat sajak sajak Chairil Anwar dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia; (c) audiovisual, misalnya berbagai judul film, berbagai acara televisi; (d) pengabdian kepada masyarakat; (e) pembelajaran tempat; (f) pembelajaran etika; (g) program olahraga; (h) menjaga dan meningkatkan kesadaran akan harga diri.

H. Tahap-Tahap Perkembangan Pendidikan Karakter
Pelaksanaan pendidikan karakter di satuan pendidikan perlu melibatkan seluruh warga sekolah, orangtua siswa, dan masyarakat sekitar. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter mengenai prosedur pengembangan kurikulum yang mengintegrasikan pendidikan karakter di satuan pendidikan dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan.
1.      Sosialisasi
a.       Melaksanakan sosialisasi pendidikan karakter dan melakukan komitmen bersama antara seluruh komponen warga sekolah/satuan pendidikan (stakeholder).
b.      Membuat komitmen dengan semua stakeholder (seluruh warga sekolah, orang tua siswa, komite, dan tokoh masyarakat setempat) untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter.
2.      Perencanaan
a.        Melakukan analisis konteks terhadap kondisi sekolahsatuan pendidikan (internal dan eksternal) yang dikaitkan dengan nilai-nilai karakter yang akan dikembangkan pada satuan pendidikan yang bersangkutan. Analisis ini dilakukan untuk menetapkan nilai-nilai dan indikator keberhasilan yang diprioritaskan, sumber daya, sarana yang diperlukan, serta prosedur penilaian keberhasilan.
b.       Menyusun rencana aksi sekolah/satuan pendidikan berkaitan dengan penetapan nilai-nilai pendidikan karakter.
c.       Membuat program perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter serta memasukkan karakter utama yang telah di tentukan dalam:
·         Pengintegrasian melalui pembelajaran
·         Pengintegrasian melalui muatan lokal
·         Kegiatan lain yang dapat diintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter, misalnya pengembangan diri, pengembangan kepribadian profesional pada pendidikan kesetaraan.
d.      Membuat perencanaan pengkondisian, seperti:
·         Penyediaan sarana
·         Keteladanan
·         Penghargaan dan pemberdayaan
·         Penciptaan kondisi/suasana sekolah atau satuan pendidikan
3.      Pelaksanaan
·         Melakukan penyusunan KTSP yang memuat pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter.
·         Mendata kondisi dokumen awal (mengidentifikasi nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam dokumen I)
·         Merumuskan nilai-nilai pendidikan karakter di dalam Dokumen I (latar belakang pengembangan KTSP, Visi, Misi, Tujuan Sekolah/satuan pendidikan, Struktur dan Muatan Kurikulum, Kalender Pendidikan, dan program pengembangan diri atau pengembangan kepribadian profesional)
·         Mengitengrasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang telah terpetakan dalam dokumen II (silabus dan RPP)
·         Melakukan pengkondisian, seperti penyediaan sarana, keteladanan, penghargaan dan pemberdayaan, menciptaan kondisi atau suasana sekolah, mempersiapkan guru melalui workshop dan pendampingan.
4.       Evaluasi
a.       Melakukan penilaian keberhasilan dan supervisi
Untuk keberlangsungan pelaksanaan pendidikan karakter perlu dilakukan penilaian keberhasilan dengan menggunakan indikator-indikator berupa perilaku semua warga dan kondisi sekolah/satuan pendidikan yang teramati. Penilaian ini dilakukan secara terus menerus melalui berbagai strategi. Supervisi dilakukan mulai dari menelaah kembali perencanaan, kurikulum, dan pelaksanaan semua kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, yaitu:
b.      Implementasi program pengembangan diri berkaitan dengan pengembang nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam budaya sekolah/satuan pendidikan.
c.       Kelengkapan sarana dan prasarana pendukung implementasi pengembangan nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa
d.      Implementasi nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran
e.       Implementasi belajar aktif dalam kegiatan pembelajaran
f.       Ketercapaian Rencana Aksi Sekolah/satuan pendidikan berkaitan dengan penerapan nilai-nilai pendidikan karakter
g.      Penilaian penerapan nilai pendidikan karakter pada pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik (sebagai kondisi akhir)
h.      Membandingkan kondisi awal dengan kondisi akhir dan merancang program lanjutan.
5.      Pengembangan 
a.    Menetapkan/menentukan nilai karakter baru yang akan dikembangkan
b.   Menemukan cara-cara baru dalam mengembangkan nilai-nilai karakter yang lama dan baru
c.    Memperkaya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan nilai-nilai karakter yang dipilih
d.   Meningkatkan komitmen dan kesadaran masyarakat untuk mendukung program Pendidikan Karakter

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Pendidikan karakter merupakan upaya menanamkan dan mendidik nilai-nilai luhur dalam berinteraksi dengan Tuhannya, lingkungan keluarga, antar sesama, sekolah ataupun masyarakat itu sendiri.Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan.Serta fungsi pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan potensi dasar seorang anak agar berhati baik, berperilaku baik, serta berpikiran yang baik.

DAFTAR RUJUKAN
Ardy, N. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter dan Implementasinya di Sekolah. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani.
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. 2010.Pedoman Pendidikan Karakter             Bangsa.Jakarta: Dirjen Dikti.
Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo
Lickona, Thomas, 1991. Educating For Character, New York: Bantam Book.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. (Online), (https://jdih.kemdikbud.go.id/arsip/Permendikbud_Tahun2018_Nomor20.pdf), diakses 18 November 2018.
Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pendidikan      Nasional dalam Publikasinya,pedoman pelaksanaan pendidikan Karakter     (2011)
Megawangi, Ratna. 2005. Pendidikan Karakter: Solusi Tepat untuk Membangun    Bangsa, Bogor: Indonesia Heritage Foundation
Mulyasa, E. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara
Zabaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada Media

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INFORMATIF! PERBEDAAN FANTASI, INTELEGENSIA DAN PERASAAN

Fantasi Yang dimaksud dengan fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan bayangan baru. Dengan kekuatan fantasi manusia dapat melepaskan diri dari keadaan yang dihadapinya dan menjangkau kedepan, ke keadaan-keadaan yang mendatang. Fantasi sebagai kemampuan jiwa manuia dapat terjadi: 1.       Secara disadari, yaitu apabila individu-individu betul-betul menyadari akan fantasiny. Misalnya seorang pelukis yang sedang menciptakan lukisan dengan kemampuan fantasinya, seorang pemahat yang sedang memahat arca dengan dasar daya fantasinya. 2.       Secara tidak disadari, yaitu apabila individu tidak sadar telah dituntun oleh fantasinya. Keadaan semacam ini banyak dijumpai pada anak-anak. Anak seting mengemukakan hal hal yang bersifat fantastis, sekalipun tidak ada niat atau maksud dari anak untuk berdusta. Misalnya seorang anak memberikan berita yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, sekalipun...

REKOMENDASI FILM YANG COCOK DITONTON MAHASISWA SAAT DI KOS PART 1

Pasti bingung apa yang akan dilakukan diakhir pekan, apalagi sebagai mahasiswa yang merantau jauh dari rumah. Mau pulang ke kampung halaman, hemat uang. Mau keluar jalan, uang buat makan minggu depan. Mau pergi ke Mall, nggak punya temen. Yuk, simak kegiatan ini bisa dilakukan tanpa modal. Cukup siapkan WiFi kos yang lancar untuk streaming atau kalian bisa pergi ke Telkom untuk mendownload filmnya. Banyak pelajaran atau moral value yang akan dapat diambil di film ini. Selain itu bisa juga dijadikan ajang untuk olahraga air mata. Ini dia beberapa rekomendasi film yang dapat ditonton disela sela akhir pekan versi aku! 1. Miracle In Cell No. 7 (2013) Super rekomended untuk mengasah kepekaan hati kalian, apalagi yang jauh dari rumah. Selain itu film ini mendapatkan banyak reward dari korea. Ditetapkan dibanyak situs sebagai film tersedih sepanjang masa. Auto menangis, bukan kaleng kaleng lagi pastinya. Menceritakan seorang anak perempuan yang tinggal dengan ayahnya yang me...

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA: STRATEGI REKRUTMEN SUMBER DAYA MANUSIA AGAR LEBIH SELEKTIF DAN EFEKTIF

STRATEGI REKRUTMEN SUMBER DAYA MANUSIA AGAR LEBIH SELEKTIF DAN EFEKTIF STUDI KASUS SMA BRAWIJAYA SMART SCHOOL Idqa Nanda Ayu Okky Irwina Savitri Salsabilla Taftania E-mail: idqnnd2803@gmail.com , okkyirwinasvtr@gmail.com , salsabillataf@gmail.com Jurusan Administrasi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Malang 65145 Abstract: This research has purpose to describtion the strategy of recruitment human resources, recruitment is the process of obtaining new human resources to fulfill positions within an organization or a particular agency.This research used qualitative approach with research type of case study research and supported by using literacy analysis. The results of this research are: techniques in the recruitment process of human resources, weaknesses and strengths of human resource recruitment techniques, all recruitment processes from the beginning to the process of receiving human resources at Bra...